Sosiologi Desa

Desa Cicau masih menyisakan jejak masa silam, pertanian dan peternakan. Sapi dan Domba berkeliaran di pinggir jalan, ini menandakan di desa ini masih ada, masyarakat yang berprofesi sebagai peternak. Jejak yang hilang di desa ini adalah pertanian. Dekade 90 – an, tiba – tiba di kelilingi wilayah perindustrian. Lippo Cikarang sebagai pihak penanggungjawab pembebasan lahan untuk wilayah ini. Lippo Cikarang sebagai pengembang (developer) industri pembebasan lahan – lahan masyarakat untuk menyongsong era industri.

Derak modernisasi dimulai dari pelepasan tanah. Tanah – tanah dilepaskan dengan penukaran lahan – lahan pertanian dengan teknologi pertanian yang ditawarkan oleh para pengembang. Di era Soeharto menyongsong era industrialisasi, desa – desa penyangga kota dijadikan sasaran perkembangan wilayah Industri. Desa Cicau dan sekitarnya adalah desa yang gagal menjadi kota.

Kegagalan Desa Cicau adalah kegagalan fase lompatan lepas landas dari rencana program pembangunan lima tahun fase keempat (Repelita IV) era Suharto. Cicau merepresentasikan artefak kegagalan pembangunan masa lalu. Kegagalan ini dikukuhkan dan diwariskan secara turun temurun. Kegagalan lompatan Desa Cicau dari desa agraris ke desa Industri menyisakan ketertinggalan kualitas sumber daya manusia. Ibaratnya, Desa Cicau enggang menjadi desa pertanian dan menjadi kota pun tak mau. Maka, sisa – sisa wilayah agraris menjadi artefak, persawahan yang terbengkalai, ladang yang tidak terkelola, dan industri rumah tangga yang kolaps (industri bata merah) masih bertahan sebagai artefak masa silam.

Perubahan yang cepat membuat desa Cicau kelihatan tunggang langgang, desa Cicau masih mencari bentuk pembangunan di tengah krisis sumber daya manusia. Penampakan fisik infrastruktur pemerintah desa, Kantor Desa Cicau sangat mega yang ditopang dengan gerbang yang berdiri kokoh untuk menyambut para tamu dan pengunjung di desa ini. Kantor desa ini sangat istimewa serupa kantor bupati. Kemewahan kantor desa tidak seangkuh dengan kemajuannya di tengah Industri. Kemewahan kantor desa tidak berbanding lurus dengan kondisi sumber daya manusia yang mereka miliki.

Krisis sumber daya manusia yang rendah dan pengangguran yang tinggi adalah imbas dari perubahan situasi masyarakat menjadi wilayah Industri. Masyarakat Cicau sangat tidak siap menerima perubahan tersebut. Di kala masyarakat masih senang beternak, bertani, dan mengayak tanah merah, tiba – tiba wilayah sekitar cerobong asap industri berdiri kokoh. Serapan – serapan tenaga kerja diambil dari wilayah luar. Di kala industri bertumbuh, anak – anak para petani masih enggang untuk bersekolah. Pada akhirnya, ketertinggalan mereka harus akui, mereka sangat lambat merespons perubahan yang berlangsung di wilayahnya. Mereka hanya sekadar penonton pertumbuhan industri dengan menikmati limbah – limbahnya.

Keterlambatan merespons di masa lalu, baru mereka rasakan di masa kini yang berimbas pada generasi baru saat ini. Kegagalan orang tua di masa lalu tetap diwariskan oleh generasi milenial Desa Cicau. Generasi mereka tidak responsif terhadap perubahan. Bahkan, generasi mereka tidak terserap ke dalam Industri, mereka tetap kalah dengan orang – orang luar. Uniknya, pegawai Alfamart yang dekat kantor desa tidak berasal dari desa tersebut. Tapi, mereka direkrut dari luar. Permasalahan ketertinggalan kualitas sumber daya diperhadapkan dengan keengganan generasi berikutnya menempuh pendidikan di tengah kesulitan memperoleh pendidikan. Ketertinggalan kualitas sumber daya yang mereka hadapi. Mereka menginginkan pelatihan pengembangan kemampuan untuk memasuki pasar kerja. Generasi milenial kebingungan mencari arena sumber penghidupan. Ketiadaan akses terhadap sumber penghidupan berimbas pada karakter masyarakat yang terpolarisasi berdasarkan sistem nafkah mereka geluti. Keunikan polarisasi (keterbelahan) bisa dibagi ke dalam karakter pemukiman.

*

Wilayah pemukiman yang terbentuk di desa Cicau menunjukkan keterbelahan di tengah masyarakat. Keterbelahan ditunjukkan wilayah pemukiman. Kelas atas tinggal perumahan – perumahan. Kelas menengah atas adalah penduduk asli yang tinggal di pemukiman warga dengan rumah – rumah yang megah dan memiliki kos – kosan,  Warga masyarakat kelas menengah ke bawah adalah warga yang tinggal di pemukiman yang padat dan rapat dengan rumah – rumah permanen berdempetan, sedangkan masyarakat warga kelas bawah adalah warga yang tinggal di rumah semi permanen dan hanya menyewa rumah. Karakter penghuni dari rumah kelas bahwa ditinggali beberapa kepala keluarga dalam satu rumah.

Karakter pemukiman dibentuk berdasarkan keterbelahan yang dipengaruhi oleh keberadaan industri di sekitarnya. Desa Cicau dibagi menjadi empat dusun dengan karakteristik pemukiman berdasarkan keterbelahan kelas. Dusun dua adalah sebagai pemukiman orang – orang pendatang dan menjadi tempat pengembangan program hidroponik PT Hankook. Dusun tiga adalah dusun yang terletak di bagian barat dari kantor desa. Karakter warga dusun ini terbelah, warga desa yang dekat dengan kantor desa adalah masyarakat yang kelas menengah atas sedangkan barat jauh dari kantor desa adalah masyarakat kelas menengah bawah. Di wilayah ini ditemukan artefak – artefak pertanian dan industri rumah yang tangga yang kalah dari industri modern.

Dusun satu memiliki karakter masyarakat elite yang ditopang dengan masyarakat bawah. Masyarakat bawah ini berprofesi sebagai pengepul dan penampung sampah limbah industri . Masyarakat – masyarakat kelas bawah cenderung tinggal di pemukiman padat berada di pinggiran – pinggiran desa. Dusun tiga memiliki karakter yang sedikit berbeda karena wilayah ini sebagian besar dihuni dengan penduduk asli dengan karakter masyarakat kelas menengah ke bawah. Penduduk asli yang berada di kelas menengah bawah cenderung berprofesi sebagai pengepul limbah pabrik berupa barang karton, plastik, dan besi.

 Keterbelahan yang terbentuk secara kelas berdasarkan akses terhadap sumber penghidupan (sumber nafkah) tidak berdampak pada konflik sosial. masyarakat pendatang dan penduduk asli tidak memiliki ketegangan dan konflik sosial. Kondisi sosial masyarakat setempat sangat harmonis. Keretakan sosial berdasarkan konflik sumber nafkah tidak terjadi. Ikatan soliditas dan kondisi harmonisasi masyarakat ditopang dengan kekuatan agama. Hasil wawancara menunjukkan semua tokoh masyarakat yang ditokohkan berasal dari unsur agama dan didukung dengan ikatan kekerabatan. Lingkaran elite desa dan tokoh di masyarakat memiliki ikatan kekerabatan satu sama lain yang saling mendukung. Masyarakat juga masih mempercayai dan meyakini tokoh – tokoh karismatik.

Keberadaan tokoh – tokoh masyarakat dari unsur agama yang penjaga harmonisasi di tengah – tengah masyarakat yang timpang. Kekuatan soliditas mereka diperkuat dengan kegiatan – kegiatan ibadah berjamaah dan seremoni keagamaan. Di satu sisi, praktik gotong royong tingkat soliditas masyarakat rendah ketika mengarah pada aspek membangun desa misalnya pada kebersihan lingkungan, pembangunan di desa. Tapi, ketika diperhadapkan dengan kegiatan keagamaan sangat tinggi, mereka rela menyumbangkan uang dan  tenaga untuk kegiatan keagamaan seperti acara sunatan, akikah, pengajian, dan tahlilan. Corak keagamaan ini sangat kuat, Desa ini dibangun dari basis agama dan kekerabatan.

**

Catatan perjalanan (avontur) pola perubahan dan sistem sosial yang terbentuk di Desa Cicau menunjukkan kegagapan tokoh – tokoh sosiolog klasik melihat transformasi masyarakat yang dualistik. Beberapa tokoh – tokoh klasik yang mengasumsikan perubahan sosial bersifat linear di mulai dari Ibnu Khaldun, Aguste Comte, Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, dan Ferdinan Tonnies, dari tidak beradab ke beradap, yang homogen ke yang heterogen,  dari kesadaran magis ke kesadaran kritis, paguyuban ke patembayan, dan solidaritas  mekanik ke organik. Para teoritis ini perubahan yang involusi yang berlangsung di komunitas masyarakat. gagasan involusi pertama kali dibeberkan oleh Clifford Geertz (1983) tentang konteks masyarakat Jawa yang memiliki sistem sosial, berbagi kemiskinan.

Konsep berbagi kemiskinan yang menyebabkan perubahan yang involusi sangat terlekat dengan masyarakat Desa Cicau. Hasil wawancara tokoh masyarakat mengatakan bahwa salah satu kebiasaan masyarakat Cicau adalah royal terhadap berbagi dalam kegiatan – kegiatan keagamaan, usaha – usaha yang mereka rintis kerap kali mengalami kehabisan modal karena modal yang mereka miliki digunakan untuk ritual – ritual keagamaan. Agama yang menjadi pengikat solidaritas dan soliditas untuk membangun komunitasnya.

Masyarakat Cicau yang hidup dalam kepungan kota dan gaya urban, keterlekatan tradisi desa dan agama masih sangat terinternalisasi dalam diri mereka. Perubahan yang berlangsung di Desa Cicau tidak bersifat linear, dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Proses perubahan yang berlangsung di sekitarnya, memicu kekagetan budaya dan tindakan sosial. Francis Fukuyama (2020) dalam bukunya Identitas Tuntutan atas Martabat dan Politik Kebencian menegaskan hal yang sama bahwa masyarakat di negara – negara di Asia, Afrika, Amerika Utara mengalami proses modernisasi tanpa pembangunan. Perubahan yang dimaksud oleh Fukuyama (2020) adalah urbanisasi dan perubahan sosial yang cepat tanpa pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang berkelanjutan. Konsentrasi kekayaan dan kualitas sumber daya terkonsentrasi dalam golongan tertentu.

Avontur ini mempertegas bahwa cara pandang teori klasik tidak sesuai dengan konateks kemasyarakatan yang berlangsung di Indonesia. Tatanan sosial di Indonesia memiliki variasi atau keberagaman sistem perubahan sosial sesuai dengan konteks ekologis dan sikap kebudayaan mereka miliki. Sikap kebudayaan di maksud adalah sikap masyarakat yang tetap berusaha mempertahankan nilai tradisi dan sistem kepercayaan yang melekat dalam diri identitas mereka. Kita tahu bahwa arus modernisasi mengikis dan meleburkan nilai dan tradisi yang mereka miliki. Tapi, mereka tetap hadir dengan kebudayaannya dalam kehidupan keseharian.

sumber : https://paranalar.com/2020/06/14/cicau-yang-kaget/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *